Jumat, 23 September 2011
Mira ngeblog: Maafkan Aku, Kawan (Inspirasi)
Mira ngeblog: Maafkan Aku, Kawan (Inspirasi): Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang menampar tem...
Sabtu, 17 September 2011
Akhirnya Nonton Juga

“Brmm….”
Suara mobil Abi
yang baru saja dihidupkan membangunkanku, seolah-olah hendak menyuruhku untuk
segera meninggalkan mimpi indahku dan bergegas mengambil air wudhu. Hari ini
adalah hari spesial bagiku, karena aku dan keluargaku akan pergi keluar kota.
Selesai
melaksanakan Sholat Shubuh, aku bergegas membahasi tubuhku, air terasa sangat
segar karena cuaca yang dingin dan matahari belum menampakkan sinarnya.
“Damu, cepat!”
seru Umi, membuatku mempercepat kegiatanku di kamar.
Setelah selesai
mempersiapkan barang-barang yang ingin kubawa, akupun bergegas menuju mobil.
Hari ini aku dan keluargaku memang berniat untuk berangkat saat matahari masih
berada di peraduannya, karena perjalannya cukup jauh, sekitar 3 jam dari kota
Riyadh.
Di
perjalanan, aku membayangkan bagaimana kota itu sekarang. Kota Khobar, kota
yang sangat indah yang menjadi tempat kelahiranku. Aku tidak tahu kenapa aku
sangat merindukan kota tersebut, padahal hampir setiap akhir pekan aku dan
keluarga selalu pergi kesana. Tapi kerinduanku kali ini tidak sama, sudah
kurang lebih sebulan aku tidak mengunjungi kota tersebut karena aku harus
menyelasaikan ulanganku.
“Damu... Nisa…!!”
Suara merdu yang memekikkan telinga
menyambut kedatadanganku dan keluargaku.
“Assalamu’alaikum.
Sara, apa kabar?” sapaku.
“Wa’alaikumsalam
Waruhmatullah. Alhamdulillah baik. Kamu?
Udah hampir sebulan kita tidak bertemu, aku kangen sekali.” ucap Sara.
“Aku juga baik,
Alhamdulillah. Iya nih, kangen banget!”
seruku sambil memasukkan koper-koper ke dalam rumahku yang berada di Khobar
dibantu oleh Sara.
Sara adalah teman
baikku, sejak kecil ia selalu bermain denganku.
“Sara, belanja
yuk!” seruku.
“Apa? Baru sampai
sudah mau belanja? Damu, Damu. Ok deh, ayo!”
“Hey Nisa, mau
ikut kakak belanja gak?” ajakku kepada adik tercintaku.
“Mau dong, kak.
Ayo! Mall, kita datang!” seru Nisa, membuat kami semua tertawa.
Kota
Khobar adalah tempat yang paling menyenangkan untuk pergi berbelanja, karena
barang-barang disana selain harganya yang murah, kualitasnya pun bagus.
Keesokan
harinya, keluargaku dan keluarga Sara berencana untuk pergi ke pantai. Sepanjang
perjalanan, aku, Sara dan Nisa asyik mengobrol tentang pengalaman kami setelah
sebulan tidak bertemu. Tiba-tiba Sara bertanya kepadaku
“Damu, nanti kamu
mau menonton pertandingan bola? Nanti malam Real Madrid tanding lho!”
Hah? Aku dan Nisa terkejut mendengarnya
sampai kami tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“I…i…iya dong,
aku kan Madridista” kataku terbata-bata. “Tapi kenapa kamu menanyakan hal itu?
Kamu kan tidak suka sepak bola?”
“Oh, tidak
apa-apa. Jangan khawatir, aku hanya bertanya karena kamu adalah teman terbaikku
sedunia yang mencintai sepak bola.” jelas Sara sambil merangkulku, membuat jilbabku menjadi sedikit berantakan.
“Astaghfirullah!
Lailahailallah! Allahu Akbar!” teriakku.
“Subhanallah!
Walhamdulillah!” lanjut Sara dan Nisa bersamaan sambil tersenyum tanpa mengetahui
sebabnya aku berteriak.
“Ada apa Damu,
berteriak-teriak seperti itu di mobil?” Tanya Umi.
“Oh, tidak
apa-apa Umi. Aku hanya terkagum-kagum dengan pantai di Khobar, terutama pantai
ini sangat menakjubkan dan membuatku selalu ingin memandangnya.” Ucapku sambil
tersenyum terpaksa.
“Hah? Bukannya
kakak sering pergi ke pantai ini? Kok masih terkagum-kagum aja sih?” Tanya adikku.
“Sst… Diam Nisa!”
kataku pelan, berusaha untuk mendiamkan adikku.
“Ada apa
sebenarnya?” Tanya Sara.
“Tidak ada
apa-apa, aku hanya teringat ada sesuatu yang tertinggal di Riyadh, bukan
masalah.” jelasku.
Aku berusaha
untuk meyakinkan mereka agar tidak merasa curiga kepadaku, karena sebenarnya
aku lupa membawa kartu yang biasa aku pakai untuk menonton siaran langsung
sepak bola luar negeri di tv.
“Bodohnya diriku ini, padahalkan malam
ini pertandingannya bagus.” bisikku dalam hati.
Setelah
menghabiskan waktu sekitar 5 jam di pantai tersebut, akhirnya kami pulang. Jam
dinding menunjukkan pukul 16.00 sore. Aku bergegas mandi dan melaksanakan
Sholat Ashar. Lalu, seperti biasa aku melaksanakan kegiatan rutinku setelah
Sholat Ashar yaitu bermain internet dan Twitter.
“Allahu Akbar Allahu Akbar…”
Suara Adzan
Maghrib menyadarkanku akan waktu untuk meninggalkan dunia maya yang terkadang
menghipnotisku untuk berada di depan laptop atau komputer selama berjam-jam.
Akupun bergegas melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan
membaca ayat suci Al-Qur’an.
Kemudian,
aku makan malam bersama keluargaku. Suasana dimeja makan malam itu hangat
sekali, tetapi tidak sehangat hatiku yang sedang gelisah. Aku takut aku tidak
dapat menonton pertandingan sepak bola malam itu. Aku memang penggemar fanatik
sepak bola, terutama klub sepak bola Real Madrid. Setelah makan malam dan
Sholat Isya, akupun pamit kepada Abi dan Umi karena aku ingin bermain sebentar
ke rumah Sara.
“Ampunilah aku,
Ya Allah. Maafkanlah aku Abi, Umi aku telah berbohong.” ucapku perlahan sambil
menutup gerbang rumahku.
Sebenarnya malam
itu aku bukan ingin pergi ke rumah Sara, melainkan ingin mencari Café atau
Coffee Shop yang menayangkan pertandingan sepak bola malam itu.
Di perempatan
jalan, aku tidak tahu bahwa Sara melihatku dari dalam mobil. Sara menghubungi
Umiku dan Umiku pun bergegas untuk menjemputku pulang. Di pertigaan jalan, tepat
di depan sebuah Coffee Shop, sahut-sahut terdengar suara teriakan seorang wanita.
Teriakan itu semakin lama semakin jelas terdengar.
“Muntaha SB. !”
“Astaghfirullah!”
ucapku pelan dengan sedikit terkejut.
Seketika itu
langkahku berhenti dan aku merasakan jantungku ini berdegup keras dan kencang
seperti drum yang dipukul oleh drummer sebuah band rock. Aku tidak dapat
berkata apa-apa lagi, bahkan aku tidak berani menoleh, kakiku terasa lemas dan
bergetar seperti dawai senar gitar yang kendur. Aku takut Umiku akan marah
dahsyat kepadaku karena aku telah berbohong.
Akhirnya dengan mengumpulkan
sedikit keberanian yang ada di dalam diriku ini, aku berusaha untuk menolehkan
kepalaku, tetapi aku masih takut untuk menatap wajah Umiku.
“Apa yang sedang kamu
lakukan malam-malam seperti ini dan di tengah jalan seperti ini, Damu?” tanya
Umi kepadaku dengan nada suara lembut.
“A…aku se…sedang
mencari tempat untuk menonton sepak bola, Umi.” ucapku perlahan.
“Oh… Tapi kenapa
kamu tidak mengajak Umi? Umi dan Nisa dapat menemanimu mencarinya.” ucap Umi
seraya tersenyum kepadaku yang masih tidak berani untuk menatap wajahnya.
“Umi tidak marah
kepadaku atas apa yang aku lakukan malam ini?” tanyaku sambil memberanikan diri
untuk menatap wajah cantik Umiku dan aku baru menyadari bahwa ada Nisa berdiri
dengan senyuman manisnya di sebelah Umi sejak tadi.
“Tidak, Damu sayang. Umi tahu kamu akan
melakukan hal ini karena Sara telah memberitahu Umi bahwa hari ini ada
pertandingan sepak bola dan Sara juga berkata bahwa ada barang yang lupa kamu
bawa ke Khobar. Barang itu pasti kartumu, kan?”
“Iya, terima kasih
banyak, Umi. Umi adalah Umi paling baik sedunia. Aku sayang Umi!” seruku sambil
memeluk Umiku.
“Iya, sama-sama,
anakku. Hmm, Damu, apakah kamu sudah menemukan tempatnya?”
“Aku belum
menemukannya Umi, dan aku belum bertanya apakah Coffee Shop dihadapan kita ini
menayangkan pertandingan sepak bola atau tidak.” jelasku.
“Kalau begitu,
ayo kita tanya!” seru Nisa dengan kepercayaan dirinya yang tinggi membuatku dan
Umi tertawa.
Akhirnya,
“Segafredo” sebuah Coffee Shop yang tepat berada di hadapan kami tadi, menjadi
tempat terindah bagiku, Umi, dan adikku Nisa. Karena selain kami dapat menonton
pertandingan sepak bola dan mendukung tim favorit kami, aku dapat merasakan
kebahagiaan dan kehangatan keluarga yang mungkin lebih hangat dari kopi
Cappucino yang sedang kuminum di tengah dinginnya suasana malam. Aku cinta sepak
bola, aku cinta Kota Khobar, aku cinta Saudi Arabia, dan tentu saja, aku akan
selalu mencintai keluargaku, terutama Umiku.
Jumat, 16 September 2011
Layangan Putus
Mana orang itu? Katanya akan datang ke pameran perdana museum layang-layang, kenapa sampai sekarang belum menyusul? batinku gelisah.
Aku melancarkan pandangan mengelilingi ruangan, kudapati seorang anak kecil berlari mendekati sebuah layangan putih sederhana yang dipajang di sudut. Aku menghampiri anak itu berniat menyapanya sebelum ia bergerak gesit; ia menyentuh layang-layang putih itu dan menariknya hingga putus.
“Hei!!”
Terlambat. Layangan itu sudah putus. Ketika itu aku mendengar namaku bergaung, seseorang memanggilku, tapi orang itu tidak di sini.
“Dididididi…Didi!! Didididi!!!”
Merasa tidak direspon, Tri, bocah berusia sepuluh tahun yang mengenakan kaos Power Ranger kesayangannya dengan celana selutut, memutuskan paduan suara di teras rumah Didi. Tri tahu Didi paling benci suara cempreng khas Tri. Kalau Didi tidak mau keluar, seenggak-enggaknya dia melempar sandal dari jendela, lumayan buat diloakin.
Tri mendengar langkah-langkah kecil tergesa di sisi lain pintu.
“Tri!” Didi, bocah perempuan rambut kuncir dua yang paling hobi pake baju anak laki-laki itu membuka pintu.
“Hai Didi, kejar layangan putus, yuk!” tawar Tri.
“Aku ngga boleh keluar sama Mama, katanya aku nyaris gosong, maksudnya apaan sih?” Didi duduk bersila di depan pintu.
“Emangnya mama kamu ada?” tanya Tri.
Didi menggeleng, “lagi kerja,”
Tri langsung berbinar, matanya menatap langit biru tak berawan penuh bercak warna-warni yang mereka kenal namanya layangan.
“Bakal banyak yang putus nih…”
Didi ikut berbinar, hampir ngiler mamandang langit.
“Tapi terserah kamu deh, Di. Kalo kamu mau ngejar layangan, aku ikut, kalo engga, aku tetap ikut anak lain. Hehe…,” Tri garing.
Didi membayangkan Mama keluar gigi taring, matanya terbelalak merah, dan kaki rada ngambang saking marahnya karena Didi keluar. Tapi bayangan itu pudar berganti bayangan dirinya, Tri serta anak-anak lain pada mengejar layangan. Mereka memang tidak punya layang-layang, mereka sengaja itu. Punya sesuatu bukan segalanya yang bikin orang senang. Tapi mengejar sesuatu tanpa kepastian akan memilikinya atau tidak, itu menyenangkan. Biasanya, mereka hanya duduk di sisi lapangan, menunggu layangan anak lain putus lalu mengejarnya sampai dengkul berdarah-darah, kulit lecet-lecet, keseleo segala persendian. Karena layangan yang putus berarti bukan milik siapa-siapa. Jadi siapa saja yang berhasil menemukan layang-layang itu maka dia telah memilikinya, sekalipun layangan itu sudah rusak berat.
Didi dan Tri punya banyak layangan rusak. Sampai sekarang mereka berdua dianggap jagoan pengejar layangan putus, dan keduanya tidak rela gelar kehormatan itu dicopot dengan absennya mereka hari ini di lapangan.
kota dulu baru sampai di rumah, mana BBM mahal lagi… Tapi aku bukannya mau mengukur jalan atau tidak punya sense of crisis, tapi ada yang sebanding dengan itu semua.
Tiba di sisi sebuah lapangan besar multiguna kadang dipakai jadi lapangan bola, kalau tujuh belasan, segala lomba diselenggarakan di sini, dan lebih seringnya jadi lapangan bermain anak-anak- aku melambatkan laju mobilku, mataku mencari sosok-sosok itu, para pengejar layangan putus. Hari ini aku ingin meminta ’sesuatu’ dari mereka, lagi.
Tadi pagi aku disemprot dosen.
“KAMU NIAT KULIAH TIDAK, SIH?!” pekiknya tepat di depan hidungku, hanya gara-gara telat dua menit.
Oke, dua menit ditambah dua puluh menit. Tapi kupikir itu belum pantas jadi alasan mempermalukanku di depan umumkan ? Apalagi dia tidak menanyakan alasanku telat. Aku baru saja dari rumah sakit.
Kalau kondisiku begini, hanya satu yang bisa memulihkanku yaitu tatapan anak-anak pengejar layangan putus.Ada asa di mata mereka, dan aku mencurinya sedikit, itu sudah sangat cukup untuk membuatku kuat menjalani hari-hari. Aku ingat semangat yang sama pernah ada dalam diriku, tapi itu sudah lama hilang.
Karena kurasa mengawasi dari mobil saja tidak akan membuatku puas, maka aku memarkirkan mobilku di tepi lapangan. Aku turun, lalu duduk di atas rumput. Pijar matahari menyengat kulitku. Kusadari beberapa mata mengamatiku heran, aku tidak acuh. Aku mendapati beberapa Pengejar Layangan Putus duduk di sisi lapangan, memandang penuh minat anak-anak lain yang menerbangkan layangan mereka. Peraturan yang berlaku di sini adalah; layangan putus maka hak kepemilikan juga putus.
Saat menunggu aksi mereka itu, angin semilir berhembus.
“Kok ngga rame sih? Anak lain pada ke mana?” Didi menjulurkan kepala ingin tahu.
“Sebenarnya nih, Di, nguber layangan udah nggak jaman! Sekarang anak-anak lain pada hobi sama gasing.”
“Asal bukan kamu aja, Tri, ntar aku kasih bogem kalo ikut-ikutan anak lain!” Didi menyinsingkan lengan bajunya.
“Ya, engga bakal, Di!” Tri mengerling anak-anak yang main layangan. Satu… tiga… enam… Kok cuma delapan orang? Biasanya sampai belasan anak.
“Eh, Di, kita ini apa sih?” tanya Tri yang dirasa Didi pertanyaannya aneh sekali.
“Pengejar layangan putus, Tolol!” jawab Didi sekenanya.
“Kamu yang tolol! Apa kamu ngga mikir, penerbang layangan makin berkurang, layangan yang putus jelas makin sedikit. Nah kita ini bakal mati satu-satu!” jelas Tri.
Didi berpikir sejenak. Kepalanya baru mencerna teori Tri dua menit kemudian.
“Iya juga ya, tumben kamu pinter.”
Daripada Tri menyela, Tri memilih diam, menatap langit dihiasi titik-titik berwarna yang sesekali bergerak mengikuti arah angin. Pemandangan itu selalu bikin Tri bersemangat. Tri yakin Didi juga begitu, sampai-sampai kulit sahabatnya ini gosong karena sering ngebela-belain lihat pemandangan di atas.
Dua anak itu ngobrol seru sebelum tiba-tiba salah satunya menunjuk langit. Aku mengikuti arah telunjuknya. Dua layangan saling bertabrakan, benangnya bergesek satu sama lain. Pemilik layangan itu mengulur benang, berusaha berkelit lalu terdengar suara benang putus yang khas. Layangan kuning cerah itu putus, melayang tak tentu arah.
Spontan, para Pengejar Layangan Putus beraksi, seperti akan melakukan lari maraton, mereka mengejar layangan itu, termasuk dua anak tadi. Aku menonton penuh minat, serasa menjadi bagian dari anak-anak itu, aku menyoraki mereka… apa saja yang dapat menyalurkan semangatku yang menggebu.
“AYO! AYO!!”
Anak perempuan berambut kuncir dua menoleh padaku. Tepat saat itu kakinya berhenti mendadak dan ia terjatuh. Aku berlari hendak menolong, sebelum…
Didi tidak menyambutnya, dia memeriksa seberapa parah luka di dengkulnya, berdarah!
“Sakit, Tri.”
“Ayo dong, Di! Biasanya ngga cewek begini deh!” Tri menarik lengan Didi.
Didi menolak berdiri, “Kamu aja yang ngejar! Cepat!”
Para pengejar layangan putus menyadari Didi dan Tri berhenti mengejar, ikut-ikutan berhenti. Buat mereka bukan menang namanya kalau Didi maupun Tri tidak gabung dalam kompetisi.
“Ngga bisa gitu, kita ini se-tim!” protes Tri.
“Kejar aja buruan!Kan menangnya sama-sama!” Didi mendorong Tri.
“Menangnya sama-sama tapi ngejarnya ngga bareng, apaan tuh?!”
Didi mendengus jengkel, “Oke!”
Didi bangkit. Tri sudah menyangka sebenarnya Didi bisa. Dia menarik Didi bergabung dengan anak-anak lain yang berhamburan lagi mengejar layangan.
Tidak lama kemudian mereka bubar. Aku berjalan tergesa menghampiri pasangan pengejar layangan putus; si Kuncir Dua dan si Power Ranger, mereka duduk di rumput dan mengagumi layangan sobek mereka, seakan-akan itu adalah mahakarya.
“Hai,” sapaku seramah mungkin.
Keduanya tersenyum padaku.
“Kalian dapat layangannya ya?” aku mengangguk pada layangan sobek. Saat itu juga aku terngiang Museum Layang-layang; pameran perdana…
“Iya nih, Kak!” ujaran mereka membantingku kembali ke tanah lapangan.
“Kakak boleh minta nggak? Buat teman kakak yang lagi sakit.”
Kening mereka mengerut, “Kok dikasih layangan?”
“Dulu, dia suka banget nguber layangan bareng kakak seperti Kalian. Kalau lihat layangan putus lagi pasti dia senang.”
Mereka berbisik-bisik menimbang cukup lama, kemudian memutuskan.
“Iya deh, Kak, semoga temen Kakak cepet sembuhnya ya,” anak perempuan itu menyerahkan layangan putus padaku.
“Terima kasih banyak. Oh iya, nama Kalian siapa?”
“Saya Ari,” si Power Ranger mengangsurkan tangannya padaku. Aku menjabatnya hangat.
“Saya Mita.”
“Nama Kakak, Didi.” Aku mengerling lutut Mita penuh arti,
“Didi, ayo!” Kudengar suara itu di telingaku, suara Tri.
“Nama teman Kakak yang sakit itu Tri,” kataku seraya kutatap wajah Ari yang lecet tergores ranting pohon.
“DIDIII!!” Suatu hantaman keras seperti terjadi tepat di belakang telingaku, hari di Museum Layang-layang itu.
“Makasih ya, Ri, Mita, Kakak ke rumah sakit dulu.” Aku bergidik sendiri dan pamit pada Ari dan Mita.
Saat aku membelakangi dua anak itu, seorang wanita tiba, wajahnya merah seperti akan meledak.
“MITAAA!!” jeritnya, “Mama sudah bilang jangan keluar rumah, kamu masih aja bandel! Kamu sudah gosong begitu! ARIII!!”
Omelan wanita itu teredam saat aku menutup pintu mobilku. Kuletakkan layangan putus berwarna kuning cerah dengan sangat hati-hati di dasbor. Lirih, kudengar suara Tri, “Menangnya sama-sama tapi ngejarnya ngga bareng, apaan tuh!”
“Ngejarnya ngga bareng…”
Aku melancarkan pandangan mengelilingi ruangan, kudapati seorang anak kecil berlari mendekati sebuah layangan putih sederhana yang dipajang di sudut. Aku menghampiri anak itu berniat menyapanya sebelum ia bergerak gesit; ia menyentuh layang-layang putih itu dan menariknya hingga putus.
“Hei!!”
Terlambat. Layangan itu sudah putus. Ketika itu aku mendengar namaku bergaung, seseorang memanggilku, tapi orang itu tidak di sini.
***
“DI! DIDI!” jerit Tri di depan pintu sebuah rumah laksana istana.“Dididididi…Didi!! Didididi!!!”
Merasa tidak direspon, Tri, bocah berusia sepuluh tahun yang mengenakan kaos Power Ranger kesayangannya dengan celana selutut, memutuskan paduan suara di teras rumah Didi. Tri tahu Didi paling benci suara cempreng khas Tri. Kalau Didi tidak mau keluar, seenggak-enggaknya dia melempar sandal dari jendela, lumayan buat diloakin.
Tri mendengar langkah-langkah kecil tergesa di sisi lain pintu.
“Tri!” Didi, bocah perempuan rambut kuncir dua yang paling hobi pake baju anak laki-laki itu membuka pintu.
“Hai Didi, kejar layangan putus, yuk!” tawar Tri.
“Aku ngga boleh keluar sama Mama, katanya aku nyaris gosong, maksudnya apaan sih?” Didi duduk bersila di depan pintu.
“Emangnya mama kamu ada?” tanya Tri.
Didi menggeleng, “lagi kerja,”
Tri langsung berbinar, matanya menatap langit biru tak berawan penuh bercak warna-warni yang mereka kenal namanya layangan.
“Bakal banyak yang putus nih…”
Didi ikut berbinar, hampir ngiler mamandang langit.
“Tapi terserah kamu deh, Di. Kalo kamu mau ngejar layangan, aku ikut, kalo engga, aku tetap ikut anak lain. Hehe…,” Tri garing.
Didi membayangkan Mama keluar gigi taring, matanya terbelalak merah, dan kaki rada ngambang saking marahnya karena Didi keluar. Tapi bayangan itu pudar berganti bayangan dirinya, Tri serta anak-anak lain pada mengejar layangan. Mereka memang tidak punya layang-layang, mereka sengaja itu. Punya sesuatu bukan segalanya yang bikin orang senang. Tapi mengejar sesuatu tanpa kepastian akan memilikinya atau tidak, itu menyenangkan. Biasanya, mereka hanya duduk di sisi lapangan, menunggu layangan anak lain putus lalu mengejarnya sampai dengkul berdarah-darah, kulit lecet-lecet, keseleo segala persendian. Karena layangan yang putus berarti bukan milik siapa-siapa. Jadi siapa saja yang berhasil menemukan layang-layang itu maka dia telah memilikinya, sekalipun layangan itu sudah rusak berat.
Didi dan Tri punya banyak layangan rusak. Sampai sekarang mereka berdua dianggap jagoan pengejar layangan putus, dan keduanya tidak rela gelar kehormatan itu dicopot dengan absennya mereka hari ini di lapangan.
***
Hari ini, aku melintasi lapangan itu. Teman-temanku tidak habis pikir kenapa harus keliling Tiba di sisi sebuah lapangan besar multiguna kadang dipakai jadi lapangan bola, kalau tujuh belasan, segala lomba diselenggarakan di sini, dan lebih seringnya jadi lapangan bermain anak-anak- aku melambatkan laju mobilku, mataku mencari sosok-sosok itu, para pengejar layangan putus. Hari ini aku ingin meminta ’sesuatu’ dari mereka, lagi.
Tadi pagi aku disemprot dosen.
“KAMU NIAT KULIAH TIDAK, SIH?!” pekiknya tepat di depan hidungku, hanya gara-gara telat dua menit.
Oke, dua menit ditambah dua puluh menit. Tapi kupikir itu belum pantas jadi alasan mempermalukanku di depan umum
Kalau kondisiku begini, hanya satu yang bisa memulihkanku yaitu tatapan anak-anak pengejar layangan putus.
Karena kurasa mengawasi dari mobil saja tidak akan membuatku puas, maka aku memarkirkan mobilku di tepi lapangan. Aku turun, lalu duduk di atas rumput. Pijar matahari menyengat kulitku. Kusadari beberapa mata mengamatiku heran, aku tidak acuh. Aku mendapati beberapa Pengejar Layangan Putus duduk di sisi lapangan, memandang penuh minat anak-anak lain yang menerbangkan layangan mereka. Peraturan yang berlaku di sini adalah; layangan putus maka hak kepemilikan juga putus.
Saat menunggu aksi mereka itu, angin semilir berhembus.
***
Tri menyapu rumput dengan tangannya. Apa yang dia lakukan ini tidak memberi pengaruh apa-apa pada rumput, toh tanahnya tetap saja kotor. Tri lalu mempersilahkan Ndoro Didi duduk.“Kok ngga rame sih? Anak lain pada ke mana?” Didi menjulurkan kepala ingin tahu.
“Sebenarnya nih, Di, nguber layangan udah nggak jaman! Sekarang anak-anak lain pada hobi sama gasing.”
“Asal bukan kamu aja, Tri, ntar aku kasih bogem kalo ikut-ikutan anak lain!” Didi menyinsingkan lengan bajunya.
“Ya, engga bakal, Di!” Tri mengerling anak-anak yang main layangan. Satu… tiga… enam… Kok cuma delapan orang? Biasanya sampai belasan anak.
“Eh, Di, kita ini apa sih?” tanya Tri yang dirasa Didi pertanyaannya aneh sekali.
“Pengejar layangan putus, Tolol!” jawab Didi sekenanya.
“Kamu yang tolol! Apa kamu ngga mikir, penerbang layangan makin berkurang, layangan yang putus jelas makin sedikit. Nah kita ini bakal mati satu-satu!” jelas Tri.
Didi berpikir sejenak. Kepalanya baru mencerna teori Tri dua menit kemudian.
“Iya juga ya, tumben kamu pinter.”
Daripada Tri menyela, Tri memilih diam, menatap langit dihiasi titik-titik berwarna yang sesekali bergerak mengikuti arah angin. Pemandangan itu selalu bikin Tri bersemangat. Tri yakin Didi juga begitu, sampai-sampai kulit sahabatnya ini gosong karena sering ngebela-belain lihat pemandangan di atas.
***
Di antara anak-anak pengejar layangan putus itu, mataku terpaku pada dua dari mereka, seorang anak laki-laki berkaos Power Ranger dan celana selutut, serta anak perempuan yang rambutnya kuncir dua.Dua anak itu ngobrol seru sebelum tiba-tiba salah satunya menunjuk langit. Aku mengikuti arah telunjuknya. Dua layangan saling bertabrakan, benangnya bergesek satu sama lain. Pemilik layangan itu mengulur benang, berusaha berkelit lalu terdengar suara benang putus yang khas. Layangan kuning cerah itu putus, melayang tak tentu arah.
Spontan, para Pengejar Layangan Putus beraksi, seperti akan melakukan lari maraton, mereka mengejar layangan itu, termasuk dua anak tadi. Aku menonton penuh minat, serasa menjadi bagian dari anak-anak itu, aku menyoraki mereka… apa saja yang dapat menyalurkan semangatku yang menggebu.
“AYO! AYO!!”
Anak perempuan berambut kuncir dua menoleh padaku. Tepat saat itu kakinya berhenti mendadak dan ia terjatuh. Aku berlari hendak menolong, sebelum…
***
“Didi, ayo!” Tri mengulurkan tangan pada Didi.Didi tidak menyambutnya, dia memeriksa seberapa parah luka di dengkulnya, berdarah!
“Sakit, Tri.”
“Ayo dong, Di! Biasanya ngga cewek begini deh!” Tri menarik lengan Didi.
Didi menolak berdiri, “Kamu aja yang ngejar! Cepat!”
“Ngga bisa gitu, kita ini se-tim!” protes Tri.
“Kejar aja buruan!
“Menangnya sama-sama tapi ngejarnya ngga bareng, apaan tuh?!”
Didi mendengus jengkel, “Oke!”
Didi bangkit. Tri sudah menyangka sebenarnya Didi bisa. Dia menarik Didi bergabung dengan anak-anak lain yang berhamburan lagi mengejar layangan.
***
Syukurlah anak perempuan kuncir dua tidak apa-apa. Anak itu berdiri dan mereka berlari lagi. Begitu angin cukup reda, layangan putus mendarat di sebuah pohon yang lumayan tinggi. Anak laki-laki itu memanjat dengan gesit dan menggapai layang-layang. Wajahnya sampai lecet tergores ranting pohon. Para Pengejar Layangan Putus bersorak, aku juga, melihat layang-layang itu diusung tinggi.Tidak lama kemudian mereka bubar. Aku berjalan tergesa menghampiri pasangan pengejar layangan putus; si Kuncir Dua dan si Power Ranger, mereka duduk di rumput dan mengagumi layangan sobek mereka, seakan-akan itu adalah mahakarya.
“Hai,” sapaku seramah mungkin.
Keduanya tersenyum padaku.
“Kalian dapat layangannya ya?” aku mengangguk pada layangan sobek. Saat itu juga aku terngiang Museum Layang-layang; pameran perdana…
“Iya nih, Kak!” ujaran mereka membantingku kembali ke tanah lapangan.
“Kakak boleh minta nggak? Buat teman kakak yang lagi sakit.”
Kening mereka mengerut, “Kok dikasih layangan?”
“Dulu, dia suka banget nguber layangan bareng kakak seperti Kalian. Kalau lihat layangan putus lagi pasti dia senang.”
Mereka berbisik-bisik menimbang cukup lama, kemudian memutuskan.
“Iya deh, Kak, semoga temen Kakak cepet sembuhnya ya,” anak perempuan itu menyerahkan layangan putus padaku.
“Terima kasih banyak. Oh iya, nama Kalian siapa?”
“Saya Ari,” si Power Ranger mengangsurkan tangannya padaku. Aku menjabatnya hangat.
“Saya Mita.”
“Nama Kakak, Didi.” Aku mengerling lutut Mita penuh arti,
“Didi, ayo!” Kudengar suara itu di telingaku, suara Tri.
“Nama teman Kakak yang sakit itu Tri,” kataku seraya kutatap wajah Ari yang lecet tergores ranting pohon.
“DIDIII!!” Suatu hantaman keras seperti terjadi tepat di belakang telingaku, hari di Museum Layang-layang itu.
“Makasih ya, Ri, Mita, Kakak ke rumah sakit dulu.” Aku bergidik sendiri dan pamit pada Ari dan Mita.
Saat aku membelakangi dua anak itu, seorang wanita tiba, wajahnya merah seperti akan meledak.
“MITAAA!!” jeritnya, “Mama sudah bilang jangan keluar rumah, kamu masih aja bandel! Kamu sudah gosong begitu! ARIII!!”
Omelan wanita itu teredam saat aku menutup pintu mobilku. Kuletakkan layangan putus berwarna kuning cerah dengan sangat hati-hati di dasbor. Lirih, kudengar suara Tri, “Menangnya sama-sama tapi ngejarnya ngga bareng, apaan tuh!”
“Ngejarnya ngga bareng…”
Langganan:
Komentar (Atom)