Sabtu, 17 September 2011

Akhirnya Nonton Juga


                                      
“Brmm….”
Suara mobil Abi yang baru saja dihidupkan membangunkanku, seolah-olah hendak menyuruhku untuk segera meninggalkan mimpi indahku dan bergegas mengambil air wudhu. Hari ini adalah hari spesial bagiku, karena aku dan keluargaku akan pergi keluar kota.
            Selesai melaksanakan Sholat Shubuh, aku bergegas membahasi tubuhku, air terasa sangat segar karena cuaca yang dingin dan matahari belum menampakkan sinarnya.
“Damu, cepat!” seru Umi, membuatku mempercepat kegiatanku di kamar.
Setelah selesai mempersiapkan barang-barang yang ingin kubawa, akupun bergegas menuju mobil. Hari ini aku dan keluargaku memang berniat untuk berangkat saat matahari masih berada di peraduannya, karena perjalannya cukup jauh, sekitar 3 jam dari kota Riyadh.
            Di perjalanan, aku membayangkan bagaimana kota itu sekarang. Kota Khobar, kota yang sangat indah yang menjadi tempat kelahiranku. Aku tidak tahu kenapa aku sangat merindukan kota tersebut, padahal hampir setiap akhir pekan aku dan keluarga selalu pergi kesana. Tapi kerinduanku kali ini tidak sama, sudah kurang lebih sebulan aku tidak mengunjungi kota tersebut karena aku harus menyelasaikan ulanganku.
“Damu... Nisa…!!”
Suara merdu yang memekikkan telinga menyambut kedatadanganku dan keluargaku.
“Assalamu’alaikum. Sara, apa kabar?” sapaku.
“Wa’alaikumsalam Waruhmatullah. Alhamdulillah baik. Kamu?  Udah hampir sebulan kita tidak bertemu, aku kangen sekali.” ucap Sara.
“Aku juga baik, Alhamdulillah. Iya nih, kangen  banget!” seruku sambil memasukkan koper-koper ke dalam rumahku yang berada di Khobar dibantu oleh Sara.
Sara adalah teman baikku, sejak kecil ia selalu bermain denganku.
“Sara, belanja yuk!” seruku.
“Apa? Baru sampai sudah mau belanja? Damu, Damu. Ok deh, ayo!”
“Hey Nisa, mau ikut kakak belanja gak?” ajakku kepada adik tercintaku.
“Mau dong, kak. Ayo! Mall, kita datang!” seru Nisa, membuat kami semua tertawa.
            Kota Khobar adalah tempat yang paling menyenangkan untuk pergi berbelanja, karena barang-barang disana selain harganya yang murah, kualitasnya pun bagus.
            Keesokan harinya, keluargaku dan keluarga Sara berencana untuk pergi ke pantai. Sepanjang perjalanan, aku, Sara dan Nisa asyik mengobrol tentang pengalaman kami setelah sebulan tidak bertemu. Tiba-tiba Sara bertanya kepadaku
“Damu, nanti kamu mau menonton pertandingan bola? Nanti malam Real Madrid tanding lho!”
Hah? Aku dan Nisa terkejut mendengarnya sampai kami tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“I…i…iya dong, aku kan Madridista” kataku terbata-bata. “Tapi kenapa kamu menanyakan hal itu? Kamu kan tidak suka sepak bola?”
“Oh, tidak apa-apa. Jangan khawatir, aku hanya bertanya karena kamu adalah teman terbaikku sedunia yang mencintai sepak bola.” jelas Sara sambil merangkulku, membuat  jilbabku menjadi sedikit berantakan.
“Astaghfirullah! Lailahailallah! Allahu Akbar!” teriakku.
“Subhanallah! Walhamdulillah!” lanjut Sara dan Nisa bersamaan sambil tersenyum tanpa mengetahui sebabnya aku berteriak.
“Ada apa Damu, berteriak-teriak seperti itu di mobil?” Tanya Umi.
“Oh, tidak apa-apa Umi. Aku hanya terkagum-kagum dengan pantai di Khobar, terutama pantai ini sangat menakjubkan dan membuatku selalu ingin memandangnya.” Ucapku sambil tersenyum terpaksa.
“Hah? Bukannya kakak sering pergi ke pantai ini? Kok masih terkagum-kagum aja sih?” Tanya adikku.
“Sst… Diam Nisa!” kataku pelan, berusaha untuk mendiamkan adikku.
“Ada apa sebenarnya?” Tanya Sara.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya teringat ada sesuatu yang tertinggal di Riyadh, bukan masalah.” jelasku.
Aku berusaha untuk meyakinkan mereka agar tidak merasa curiga kepadaku, karena sebenarnya aku lupa membawa kartu yang biasa aku pakai untuk menonton siaran langsung sepak bola luar negeri di tv.
“Bodohnya diriku ini, padahalkan malam ini pertandingannya bagus.” bisikku dalam hati.
            Setelah menghabiskan waktu sekitar 5 jam di pantai tersebut, akhirnya kami pulang. Jam dinding menunjukkan pukul 16.00 sore. Aku bergegas mandi dan melaksanakan Sholat Ashar. Lalu, seperti biasa aku melaksanakan kegiatan rutinku setelah Sholat Ashar yaitu bermain internet dan Twitter.
“Allahu Akbar Allahu Akbar…”
Suara Adzan Maghrib menyadarkanku akan waktu untuk meninggalkan dunia maya yang terkadang menghipnotisku untuk berada di depan laptop atau komputer selama berjam-jam. Akupun bergegas melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan membaca ayat suci Al-Qur’an.
            Kemudian, aku makan malam bersama keluargaku. Suasana dimeja makan malam itu hangat sekali, tetapi tidak sehangat hatiku yang sedang gelisah. Aku takut aku tidak dapat menonton pertandingan sepak bola malam itu. Aku memang penggemar fanatik sepak bola, terutama klub sepak bola Real Madrid. Setelah makan malam dan Sholat Isya, akupun pamit kepada Abi dan Umi karena aku ingin bermain sebentar ke rumah Sara.
“Ampunilah aku, Ya Allah. Maafkanlah aku Abi, Umi aku telah berbohong.” ucapku perlahan sambil menutup gerbang rumahku.
Sebenarnya malam itu aku bukan ingin pergi ke rumah Sara, melainkan ingin mencari Café atau Coffee Shop yang menayangkan pertandingan sepak bola malam itu.
Di perempatan jalan, aku tidak tahu bahwa Sara melihatku dari dalam mobil. Sara menghubungi Umiku dan Umiku pun bergegas untuk menjemputku pulang. Di pertigaan jalan, tepat di depan sebuah Coffee Shop, sahut-sahut terdengar suara teriakan seorang wanita. Teriakan itu semakin lama semakin jelas terdengar.
“Muntaha SB. !”
“Astaghfirullah!” ucapku pelan dengan sedikit terkejut.
Seketika itu langkahku berhenti dan aku merasakan jantungku ini berdegup keras dan kencang seperti drum yang dipukul oleh drummer sebuah band rock. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, bahkan aku tidak berani menoleh, kakiku terasa lemas dan bergetar seperti dawai senar gitar yang kendur. Aku takut Umiku akan marah dahsyat kepadaku karena aku telah berbohong.
Akhirnya dengan mengumpulkan sedikit keberanian yang ada di dalam diriku ini, aku berusaha untuk menolehkan kepalaku, tetapi aku masih takut untuk menatap wajah Umiku.
“Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam seperti ini dan di tengah jalan seperti ini, Damu?” tanya Umi kepadaku dengan nada suara lembut.
“A…aku se…sedang mencari tempat untuk menonton sepak bola, Umi.” ucapku perlahan.
“Oh… Tapi kenapa kamu tidak mengajak Umi? Umi dan Nisa dapat menemanimu mencarinya.” ucap Umi seraya tersenyum kepadaku yang masih tidak berani untuk menatap wajahnya.
“Umi tidak marah kepadaku atas apa yang aku lakukan malam ini?” tanyaku sambil memberanikan diri untuk menatap wajah cantik Umiku dan aku baru menyadari bahwa ada Nisa berdiri dengan senyuman manisnya di sebelah Umi sejak tadi.
“Tidak, Damu sayang. Umi tahu kamu akan melakukan hal ini karena Sara telah memberitahu Umi bahwa hari ini ada pertandingan sepak bola dan Sara juga berkata bahwa ada barang yang lupa kamu bawa ke Khobar. Barang itu pasti kartumu, kan?”
“Iya, terima kasih banyak, Umi. Umi adalah Umi paling baik sedunia. Aku sayang Umi!” seruku sambil memeluk Umiku.
“Iya, sama-sama, anakku. Hmm, Damu, apakah kamu sudah menemukan tempatnya?”
“Aku belum menemukannya Umi, dan aku belum bertanya apakah Coffee Shop dihadapan kita ini menayangkan pertandingan sepak bola atau tidak.” jelasku.
“Kalau begitu, ayo kita tanya!” seru Nisa dengan kepercayaan dirinya yang tinggi membuatku dan Umi tertawa.
            Akhirnya, “Segafredo” sebuah Coffee Shop yang tepat berada di hadapan kami tadi, menjadi tempat terindah bagiku, Umi, dan adikku Nisa. Karena selain kami dapat menonton pertandingan sepak bola dan mendukung tim favorit kami, aku dapat merasakan kebahagiaan dan kehangatan keluarga yang mungkin lebih hangat dari kopi Cappucino yang sedang kuminum di tengah dinginnya suasana malam. Aku cinta sepak bola, aku cinta Kota Khobar, aku cinta Saudi Arabia, dan tentu saja, aku akan selalu mencintai keluargaku, terutama Umiku.

2 komentar: