“Brmm….”
Suara mobil Abi
yang baru saja dihidupkan membangunkanku, seolah-olah hendak menyuruhku untuk
segera meninggalkan mimpi indahku dan bergegas mengambil air wudhu. Hari ini
adalah hari spesial bagiku, karena aku dan keluargaku akan pergi keluar kota.
Selesai
melaksanakan Sholat Shubuh, aku bergegas membahasi tubuhku, air terasa sangat
segar karena cuaca yang dingin dan matahari belum menampakkan sinarnya.
“Damu, cepat!”
seru Umi, membuatku mempercepat kegiatanku di kamar.
Setelah selesai
mempersiapkan barang-barang yang ingin kubawa, akupun bergegas menuju mobil.
Hari ini aku dan keluargaku memang berniat untuk berangkat saat matahari masih
berada di peraduannya, karena perjalannya cukup jauh, sekitar 3 jam dari kota
Riyadh.
Di
perjalanan, aku membayangkan bagaimana kota itu sekarang. Kota Khobar, kota
yang sangat indah yang menjadi tempat kelahiranku. Aku tidak tahu kenapa aku
sangat merindukan kota tersebut, padahal hampir setiap akhir pekan aku dan
keluarga selalu pergi kesana. Tapi kerinduanku kali ini tidak sama, sudah
kurang lebih sebulan aku tidak mengunjungi kota tersebut karena aku harus
menyelasaikan ulanganku.
“Damu... Nisa…!!”
Suara merdu yang memekikkan telinga
menyambut kedatadanganku dan keluargaku.
“Assalamu’alaikum.
Sara, apa kabar?” sapaku.
“Wa’alaikumsalam
Waruhmatullah. Alhamdulillah baik. Kamu?
Udah hampir sebulan kita tidak bertemu, aku kangen sekali.” ucap Sara.
“Aku juga baik,
Alhamdulillah. Iya nih, kangen banget!”
seruku sambil memasukkan koper-koper ke dalam rumahku yang berada di Khobar
dibantu oleh Sara.
Sara adalah teman
baikku, sejak kecil ia selalu bermain denganku.
“Sara, belanja
yuk!” seruku.
“Apa? Baru sampai
sudah mau belanja? Damu, Damu. Ok deh, ayo!”
“Hey Nisa, mau
ikut kakak belanja gak?” ajakku kepada adik tercintaku.
“Mau dong, kak.
Ayo! Mall, kita datang!” seru Nisa, membuat kami semua tertawa.
Kota
Khobar adalah tempat yang paling menyenangkan untuk pergi berbelanja, karena
barang-barang disana selain harganya yang murah, kualitasnya pun bagus.
Keesokan
harinya, keluargaku dan keluarga Sara berencana untuk pergi ke pantai. Sepanjang
perjalanan, aku, Sara dan Nisa asyik mengobrol tentang pengalaman kami setelah
sebulan tidak bertemu. Tiba-tiba Sara bertanya kepadaku
“Damu, nanti kamu
mau menonton pertandingan bola? Nanti malam Real Madrid tanding lho!”
Hah? Aku dan Nisa terkejut mendengarnya
sampai kami tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“I…i…iya dong,
aku kan Madridista” kataku terbata-bata. “Tapi kenapa kamu menanyakan hal itu?
Kamu kan tidak suka sepak bola?”
“Oh, tidak
apa-apa. Jangan khawatir, aku hanya bertanya karena kamu adalah teman terbaikku
sedunia yang mencintai sepak bola.” jelas Sara sambil merangkulku, membuat jilbabku menjadi sedikit berantakan.
“Astaghfirullah!
Lailahailallah! Allahu Akbar!” teriakku.
“Subhanallah!
Walhamdulillah!” lanjut Sara dan Nisa bersamaan sambil tersenyum tanpa mengetahui
sebabnya aku berteriak.
“Ada apa Damu,
berteriak-teriak seperti itu di mobil?” Tanya Umi.
“Oh, tidak
apa-apa Umi. Aku hanya terkagum-kagum dengan pantai di Khobar, terutama pantai
ini sangat menakjubkan dan membuatku selalu ingin memandangnya.” Ucapku sambil
tersenyum terpaksa.
“Hah? Bukannya
kakak sering pergi ke pantai ini? Kok masih terkagum-kagum aja sih?” Tanya adikku.
“Sst… Diam Nisa!”
kataku pelan, berusaha untuk mendiamkan adikku.
“Ada apa
sebenarnya?” Tanya Sara.
“Tidak ada
apa-apa, aku hanya teringat ada sesuatu yang tertinggal di Riyadh, bukan
masalah.” jelasku.
Aku berusaha
untuk meyakinkan mereka agar tidak merasa curiga kepadaku, karena sebenarnya
aku lupa membawa kartu yang biasa aku pakai untuk menonton siaran langsung
sepak bola luar negeri di tv.
“Bodohnya diriku ini, padahalkan malam
ini pertandingannya bagus.” bisikku dalam hati.
Setelah
menghabiskan waktu sekitar 5 jam di pantai tersebut, akhirnya kami pulang. Jam
dinding menunjukkan pukul 16.00 sore. Aku bergegas mandi dan melaksanakan
Sholat Ashar. Lalu, seperti biasa aku melaksanakan kegiatan rutinku setelah
Sholat Ashar yaitu bermain internet dan Twitter.
“Allahu Akbar Allahu Akbar…”
Suara Adzan
Maghrib menyadarkanku akan waktu untuk meninggalkan dunia maya yang terkadang
menghipnotisku untuk berada di depan laptop atau komputer selama berjam-jam.
Akupun bergegas melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan
membaca ayat suci Al-Qur’an.
Kemudian,
aku makan malam bersama keluargaku. Suasana dimeja makan malam itu hangat
sekali, tetapi tidak sehangat hatiku yang sedang gelisah. Aku takut aku tidak
dapat menonton pertandingan sepak bola malam itu. Aku memang penggemar fanatik
sepak bola, terutama klub sepak bola Real Madrid. Setelah makan malam dan
Sholat Isya, akupun pamit kepada Abi dan Umi karena aku ingin bermain sebentar
ke rumah Sara.
“Ampunilah aku,
Ya Allah. Maafkanlah aku Abi, Umi aku telah berbohong.” ucapku perlahan sambil
menutup gerbang rumahku.
Sebenarnya malam
itu aku bukan ingin pergi ke rumah Sara, melainkan ingin mencari Café atau
Coffee Shop yang menayangkan pertandingan sepak bola malam itu.
Di perempatan
jalan, aku tidak tahu bahwa Sara melihatku dari dalam mobil. Sara menghubungi
Umiku dan Umiku pun bergegas untuk menjemputku pulang. Di pertigaan jalan, tepat
di depan sebuah Coffee Shop, sahut-sahut terdengar suara teriakan seorang wanita.
Teriakan itu semakin lama semakin jelas terdengar.
“Muntaha SB. !”
“Astaghfirullah!”
ucapku pelan dengan sedikit terkejut.
Seketika itu
langkahku berhenti dan aku merasakan jantungku ini berdegup keras dan kencang
seperti drum yang dipukul oleh drummer sebuah band rock. Aku tidak dapat
berkata apa-apa lagi, bahkan aku tidak berani menoleh, kakiku terasa lemas dan
bergetar seperti dawai senar gitar yang kendur. Aku takut Umiku akan marah
dahsyat kepadaku karena aku telah berbohong.
Akhirnya dengan mengumpulkan
sedikit keberanian yang ada di dalam diriku ini, aku berusaha untuk menolehkan
kepalaku, tetapi aku masih takut untuk menatap wajah Umiku.
“Apa yang sedang kamu
lakukan malam-malam seperti ini dan di tengah jalan seperti ini, Damu?” tanya
Umi kepadaku dengan nada suara lembut.
“A…aku se…sedang
mencari tempat untuk menonton sepak bola, Umi.” ucapku perlahan.
“Oh… Tapi kenapa
kamu tidak mengajak Umi? Umi dan Nisa dapat menemanimu mencarinya.” ucap Umi
seraya tersenyum kepadaku yang masih tidak berani untuk menatap wajahnya.
“Umi tidak marah
kepadaku atas apa yang aku lakukan malam ini?” tanyaku sambil memberanikan diri
untuk menatap wajah cantik Umiku dan aku baru menyadari bahwa ada Nisa berdiri
dengan senyuman manisnya di sebelah Umi sejak tadi.
“Tidak, Damu sayang. Umi tahu kamu akan
melakukan hal ini karena Sara telah memberitahu Umi bahwa hari ini ada
pertandingan sepak bola dan Sara juga berkata bahwa ada barang yang lupa kamu
bawa ke Khobar. Barang itu pasti kartumu, kan?”
“Iya, terima kasih
banyak, Umi. Umi adalah Umi paling baik sedunia. Aku sayang Umi!” seruku sambil
memeluk Umiku.
“Iya, sama-sama,
anakku. Hmm, Damu, apakah kamu sudah menemukan tempatnya?”
“Aku belum
menemukannya Umi, dan aku belum bertanya apakah Coffee Shop dihadapan kita ini
menayangkan pertandingan sepak bola atau tidak.” jelasku.
“Kalau begitu,
ayo kita tanya!” seru Nisa dengan kepercayaan dirinya yang tinggi membuatku dan
Umi tertawa.
Akhirnya,
“Segafredo” sebuah Coffee Shop yang tepat berada di hadapan kami tadi, menjadi
tempat terindah bagiku, Umi, dan adikku Nisa. Karena selain kami dapat menonton
pertandingan sepak bola dan mendukung tim favorit kami, aku dapat merasakan
kebahagiaan dan kehangatan keluarga yang mungkin lebih hangat dari kopi
Cappucino yang sedang kuminum di tengah dinginnya suasana malam. Aku cinta sepak
bola, aku cinta Kota Khobar, aku cinta Saudi Arabia, dan tentu saja, aku akan
selalu mencintai keluargaku, terutama Umiku.